Pilpres 2019 : TKN Sebut Survei Polmark Framming BPN Bahwa Petahana Masih Tidak Aman

0
12
Pilpres 2019 : TKN Sebut Survei Polmark Framming BPN Bahwa Petahana Masih Tidak Aman
Pilpres 2019 : TKN Sebut Survei Polmark Framming BPN Bahwa Petahana Masih Tidak Aman

cairnenergy.org, Pilpres 2019 – Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Ace Hasan Syadzily, menanggapi hasil survei Polmark yang menyebut dukungan parpol koalisi ke Jokowi turun. Ia menyebut hasil survei tersebut aneh.

“Secara metodologi juga survei ini tidak biasa. Saya bukan ahli survei tapi kalau minta pendapat ahlinya banyak yang bilang survei ini tak biasa, kalau tidak mau dibilang aneh,” kata Ace saat dihubungi, Kamis 14 Maret 2019.

Ia menjelaskan, setiap hasil survei ia ikuti dengan seksama. Walaupun tak ditelan mentah-mentah karena pasti mempertimbangkan kredibilitas, rekam jejak, dan juga profesionalitasnya. “Kritik metodologi juga sangat penting agar kita bisa terhindar dari upaya penyesatan informasi model bandwagon effect,” kata Ace.

Menurutnya, yang perlu diketahui oleh publik adalah survei Polmark bekerjasama dengan DPP Partai Amanat Nasional di 73 Dapil. Dan menariknya juga pemaparan hasil survei ini dibuat menjadi roadshow. Jadi bisa diduga juga bagian dari upaya menggaet efek bandwagon.

“Survei ini menggunakan data agregat 73 Dapil dalam kurun waktu 5 bulan. Boleh saja diagregat seperti itu, tinggal dilakukan weighting. Tapi masalahnya, rentang waktu survei berbagai dapil itu terlalu jauh ada yang Oktober, November, Desember 2018, ada yang Januari dan Februari 2019. Dinamika dalam rentang waktu itu terlalu jauh. Sehingga tidak menggambarkan pergeseran yang terjadi dalam rentang waktu 5 bulan itu,” kata Ace.

Berbeda dengan BPN Prabowo Sandi yang mengklaim  menang dalam survei internal mereka, Ace menilai hasil survei agregat Polmark justru menunjukkan Jokowi unggul 14 persen. Ini sejalan dengan hasil semua lembaga survei, kecuali survei yang ia sebut abal-abal yang dibuat kubu Prabowo.

“Kalaupun ada yang percaya selisihnya 14 persen,  itu angka yang signifikan  dalam waktu yang masih sebulan. Tidak bisa dikatakan ketat. Jadi, dengan hasil survei dengan metodologi yang meragukan saja Jokowi masih unggul apalagi survei benaran,” kata Ace.

Ia menambahkan, satu lagi yang meragukan dari survei Polmark adalah  undecided voters 33 persen. Padahal pemilu tinggal sebulan lebih. Di survei Pollmark nomor 1  Jokowi, nomor 2 undecided, nomor 3 Prabowo.

Sebaliknya, hampir sebagian hasil survei menunjukkan undecided semakin mengecil sejalan dengan mendekati pemilu. Hasil survei Polmark bisa jadi dilakukan dengan memperbesar angka undecided untuk menciptakan framing bahwa petahana masih di bawah 50 persen,” kata Ace.

Ia menjelaskan teori Eep Saefullah bahwa “petahana tidak aman jika hasil survei elektabilitasnya di bawah 50 persen” pun secara akademik sudah tidak valid. Teori itu merupakan teori usang yang dicetuskan oleh Nick Panagakis di tahun 1989.

“Saat ini, pandangan itu sudah tidak pernah dipakai lagi oleh para konsultan dunia karena terbukti di banyak tempat saat ini teori itu tidak berlaku. Maka, para akademisi politik menyebutnya teori itu hanya sebatas mitos aturan petahana di bawah 50 persen,” kata Ace.

Ia memberi contoh, di Pilpres AS 2012, Barrack Obama yang maju kembali sebagai capres petahana melawan Mitt Romney mematahkan teori usang mitos petahana tersebut. Elektabilitas Obama sejak bulan April berkutat di angka sekitar 40-49 persen.

Elektabilitas Obama yang tertinggi hanya di akhir bulan September dan awal Oktober yaitu 50 persen. Apa yang terjadi? Obama terpilih kembali sebagai Presiden AS dengan raihan 51 persen.

“Jadi semakin jelas survei Polmark adalah bagian dari strategi politik kubu 02 untuk membangun framing bahwa petahana masih tidak aman karena elektabilitasnya di bawah 50 persen.  Roadshow Pollmark adalah bagian dari panggung yang sengaja dirancang.”