Pileg 2019 : Wah, Tommy Soeharto Nyaleg di Dapil Papua

0
68
Pileg 2019 : Wah, Tommy Soeharto Nyaleg di Dapil Papua
Pileg 2019 : Wah, Tommy Soeharto Nyaleg di Dapil Papua

cairnenergy.org, Pileg 2019 – Tommy Hutomo Mandala alias Tommy Soeharto maju sebagai calon legislatif di daerah pemilihan (dapil) Papua. Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Berkarya Priyo Budi Santoso saat mendaftarkan caleg di KPU, Jakarta Pusat, Selasa 17 Juli 2018.

Hasil gambar untuk tommy-soeharto-nyaleg-di-dapil-papua

“Saya ingin umumkan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa ketum kami Bapak Hutomo Mandala Putra ditugaskan partai untuk merebut kemenangan dan masuk maju sebagai calon legislatif di daerah pemilihan Papua,” kata Priyo, Jakarta, Selasa.

Kakak Tommy, Titiek Soeharto juga ikut bertarung merebut kursi parlemen. “Ketua dewan pertimbangan kami ibu Hajah Siti Hediati Soeharto atau dikenal dengan Titiek Soeharto kami tugaskan untuk merebut kemenangan dan kami tugaskan di nomor urut 1 daerah pemilihan Yogyakarta. Sementara saya Priyo Budi Santoso sekretaris jenderal ditugaskan oleh partai untuk memimpin dan merebut bukit-bukit kemenangan di daerah pemilihan Jawa Timur 1,” kata Priyo.

Dia mengklaim alasan Tommy Soeharto maju karena masyarakat rindu akan sosok ayahnya yang dikenal sebagai Bapak Pembangunan.

“Saya akan buka sebuah rahasia tatkala mengunjungi ke berbagai daerah di daerah transmigran termasuk kemarin di pasar-pasar tradisional ketika mendampingi figur Tommy Soeharto sebagai ketua umum mister ya, masa simbok simbok bakul luar biasa terharunya mengingat enakan zaman Pak Harto,” ucap Priyo.

Mengapa Papua?

Dia menambahkan mengapa Papua dipilih sebagai dapilnya karena dorongan batin putra Soeharto itu. Selain itu, pemilihan tersebut didorong oleh kecintaannya terhadap Indonesia timur.

“Mungkin merupakan dengan sikap batin beliau setelah selama beberapa dekade terpinggirkan oleh sebuah sistem terpinggirkan oleh penguasa terpinggirkan oleh pemerintah selama ini yang melihat bahwa beliau mungkin dan keluarga Cendana tidak atau belum mendapatkan tempat berkreasi politik seperti layaknya sebagai warga negara yang lainnya,” Priyo menjelaskan.